Selasa, 20 Desember 2011

SITOSTATIKA

BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar belakang
Sejak jaman dahulu dikenal beberapa cara pengobatan untuk menyembuhkan penyakit kanker. Cara paling tua adalah pembedahan, kemudian menyusul penyinaran terhadap sel-sel tumor ganas yang peka sinar gamma dan dengan perkembangan pengetahuan mengenai struktur, fungsi, proliferasi sel dan mekanisme regulasi didalamnya, pengobatan kimiawi pada tahun-tahun terakhir maju dengan pesat.
Sitostatika merupakan salah satu pengobatan kanker yang paling banyak menunjukkan kemajuan dalam pengobatan penderita kanker. Karena itu pula harapan dan tumpuan dunia medis terhadap efek pengobatan dengan sitostatika terus meningkat. Sejalan dengan harapan tersebut upaya menyembuhkan atau sekurangnya mengecilkan ukuran kanker dengan sitostatika terus meluas. 
Kemoterapi merupakan pengobatan kanker menggunakan suatu obat yang merusak sel kanker. Obat antikanker dapat dibedakan menjadi dua yaitu obat konvensional dan obat dengan target molekuler yang spesifik. Obat konvensional yang dimaksud adalah obat-obat sitostatika (agen kemoterapi) seperti taxol, bleomycin, 5-flurourasil, klorambusil, tiotepa, alkaloid indol seperti vinblastin, dan vinkristin. Obat sitostatika bekerja dengan mempengaruhi metabolisme asam nukleat terutama DNA atau biosintesis protein. Hal inilah yang menyebabkan obat sitostatika bekerja tidak selektif karena bersifat toksik baik pada sel kanker maupun sel normal, terutama sel normal yang kecepatan proliferasinya tinggi seperti pada sum-sum tulang belakang.
A.   Tujuan
            1.    Penjelasan mengenai sitostatika dan obat-obat sitostatika.
            2.    Obat bahan alam yang memiliki farmakologi sitostatika.
            3.    Cara skrinning farmakologi dan fitokimia.

BAB II
PEMBAHASAN
A.   Pengertian sitostatika
Sitostatika adalah suatu pengobatan untuk mematikan sel – sel secara fraksional ( fraksi tertentu mati), sehingga 90 % berhasil dan 10 % tidak berhasil. Saat ini sedang dikembangkan terapi baru pada kanker yaitu imunoterapi, yaitu dengan memodulasi sistem kekebalan tubuh terhadap tumor, yang diharapkan dapat membunuh sel-sel kanker yang tersebar secara sistemik setelah terapi definitif lokal di lakukan. Zat-zat imunomodulator banyak tedapat tanaman obat. Oleh karena itu saat ini sedang di cari terapi alternatif dari tanamn obat yang dapat memodulasi sistem imun terhadap sel kanker, bahkan bila ada, dicari tanaman obat yang dapat bersifat sitostatika. Penggolongan obat sitostatika :
a.    Alkylating agent : Cisplatin, sikofosfamid
b.    Anti metabolites : Cystosine, florouracil
c.    Antibiotika : Bleomycin, daunomiycine
d.    Mitotik inhibitors : Vinkristine, inblastine
Kebanyakan obat anti neoplasma yang secara klinis bermanfaat, agaknya bekerja dengan menghambat sintesis enzim maupun bahan esensial untuk sintesis dan atau fungsi asam nukleat. Berdasarkan mekanisme cara kerja obat , zat yang berguna pada tumor kepala leher dibagi sebagai berikut :
1)    Antimetabolit,  Obat ini menghambat biosintesis purin atau pirimidin. Sebagai contoh MTX, menghambat pembentukan folat tereduksi, yang dibutuhkan   untuk sintesis timidin.
2)    Obat yang mengganggu struktur atau fungsi molekul DNA. Zat pengalkil seperti CTX ( Cyclophosphamide) mengubah struktur DNA, dengan demikian menahan replikasi sel. Di lain pihak, antibiotika seperti dactinomycin dan doxorubicin mengikat dan menyelip diantara rangkaian nukleotid molekul DNA dan dengan demikian menghambat produksi mRNA.
3)    Inhibitor mitosis seperti alkaloid vinka contohnya vincristine dan vinblastine, menahan pembelahan sel dengan mengganggu filamen mikro pada kumparan mitosis.
Agen kemoterapi tidak hanya menyerang sel tumor tapi juga sel normal yang membelah secara cepat seperti sel rambut, sumsum tulang dan Sel pada traktus gastro intestinal. Akibat yang timbul bisa berupa perdarahan, depresi sum-sum tulang yang memudahkan terjadinya infeksi. Pada traktus gastro intestinal bisa terjadi mual, muntah anoreksia dan ulserasi saluran cerna. Sedangkan pada sel rambut mengakibatkan kerontokan  rambut.
Efek samping yang muncul pada jangka panjang adalah toksisitas terhadap jantung, yang dapat dievaluasi dengan EKG dan toksisitas pada paru berupa kronik fibrosis pada paru. Toksisitas pada hepar dan  ginjal lebih sering terjadi dan sebaiknya dievalusi fungsi faal hepar dan faal ginjalnya. Kelainan neurologi juga merupakan salah satu efek samping pemberian kemoterapi.Secara umum kemoterapi bisa digunakan dengan 4 cara kerja yaitu :
1.    Sebagai neoadjuvan yaitu pemberian kemoterapi mendahului pembedahan dan radiasi.
2.    Sebagai terapi kombinasi yaitu kemoterapi diberikan bersamaan dengan radiasi pada kasus karsinoma stadium lanjut.
3.    Sebagai terapi adjuvan yaitu sebagai terapi tambahan paska pembedahan dan atau radiasi
4.    Sebagai terapi utama yaitu digunakan tanpa radiasi dan pembedahan terutama pada kasus kasus stadium lanjut dan pada kasus kanker jenis hematologi (leukemia dan limfoma).
B.   Obat bahan alam yang mengandung efek farmakologi
Menghambat pertumbuhan sel kanker sehingga tua dan mati dilakukan dengan :
a.    Tanaman Obat yang bersifat sitostatika : secara langsung menghambat pertumbuhan sel kanker
b.    Memperkuat sel-sel jaringan sekitar sel kanker dengan tanaman obat yang bersifat:
1.    Anti Toxic:  membersihkan racun-racun yang dihasilkan oleh sel kanker maupun akibat rusaknya jaringan yang diserang kanker
2.    Hemostatik; menghambat pendarahan akibat rusaknya pembuluh darah karena serangan kanker
3.    Anti Inflamasi; menghilangkan peradangan dan pembengkakan sehingga fungsi-fungsi organ/jaringan dapat efektif.
Berikut kami tampilkan beberapa pengobatan  dan kesaksian keberhasilan dari pengguna ramuan-ramuan dari “Roemah Obat Alami” dalam mengatasi penyakit Kanker/Tumor.
Berdasarkan konsep tersebut diatas telah meramu tanaman-tanaman obat yang terdiri dari berbagai jenis tanaman obat yang memenuhi kriteria-kriteria tersebut diatas, dan yang memang mempunyai efek farmakologis sebagai: anti kanker, anti peradangan, hemostatik, anti toxic, anti inflamasi dan antibiotic.
Untuk menghindarkan perebusan yang dapat menyebabkan hilangnya zat aktif dalam ramuan, dan merupakan suatu inovasi terbaru dalam dunia pengobatan tanaman obat/herbal serta untuk lebih mempermudah pemakaiannya,  ramuan tersebut dikemas dalam kemasan “TEH CELUP”, dengan dosis yang terukur tepat hingga menghasilkan kinerja obat yang maximal dan aman.
Ramuan Obat Herbal yang dipergunakan untuk mengatasi berbagai jenis penyakit kanker/tumor dan secara empiris terbukti telah dapat mengatasi penyakit-penyakit tersebut adalah :
a)    Phaleria Mix (K)    :    Berfungsi khusus sebagai obat untuk kanker / tumor yang terbuat dari tanaman obat yang  mengandung unsur dan efek farmakologis  untuk mengatasi kanker / tumor, anti peradangan, anti toxic, antibiotic terbuat dari:
1.     Phaleria Macrocarpa (Mahkota Dewa)
2.    Curcuma Zedoaria (Temu Putih)
3.    Andrographis Paniculata (Sambiloto)
4.    Selaginella Doerderlini (Cakar Ayam)
5.    Hedyotis Corymbusa (Rumput Mutiara)
6.    Curcuma Alba (Kunir Putih)
7.    Dendrophtoe petandra (Benalu)
8.    Catharanthus roseus (Tapak Dara)
9.    Grifola frondosa (Jamur Maitake)
10. Pettiveria alliacea (Tangguh)
b)    Phaleria Mix “Amsitu”    :    Berfungsi sebagai Anti Biotic Herbal untuk mengatasi peradangan, mengecilkan bengkak / benjol akibat kanker/tumor terbuat dari :
1.    Andrographis Paniculata (Sambiloto)
2.    Ipomea Pers (Tapak Liman)
3.    Hedyotis Corymbusa (Rumput Mutiara)
4.    Merremia Mamosa (Bidara Upas)
5.    Hybiscus Mutabilis (Waru Landak)
c)    Kapsul Multi – K    :    Khusus diberikan kepada penderita Kanker / Tumor  Stadium Lanjut, dimana unsur Keladi Tikus sangat dominan disini yang dapat menimbulkan efek gatal, Multi – K satu-satunya ramuan kami yang dibuat dalam Kapsul
d)    Teh Centella    :    Berfungsi sebagai pemulihan syaraf-syaraf yang rusak atau lemah akibat serangan kanker/tumor, yang akan diberikan setelah masa pengobatan selesai., dalam masa pemulihan.
C.   Cara skrining farmakologi dan fitokimia
Pendekatan skrining fitokimia meliputi analisis kualitatif kandungan kimia dalamtumbuhan atau bagian tumbuhan (akar, batang, daun, bunga, buah, biji), terutama kandungan metabolit sekunder yang bioaktif, yaitu alkaloid, antrakinon, flavonoid,glikosida jantung, kumarin, saponin (steroid dan triterpenoid), tanin (polifenolat), minyak atsiri (terpenoid), iridoid, dan sebagainya. Adapun tujuan utama dari pendekatan skriningfitokimia adala untuk mensurvei tumbuhan untuk mendapatkan kandungan bioaktif ataukandungan yang berguna untuk pengobatan.
Metode yang digunakan untuk melakukan skrining fitokimia harus memenuhi beberapa persyaratan antara lain :
a.    Sederhana,
b.    Cepat,
c.    Dirancang untuk peralatan minimal,
d.    Bersifat selektif untuk golongan senyawa yang dipelajari,
e.    Bersifat semi kuantitatif sebegitu jauh dapat diketahui batas terendah dari golongansenyawa yang dipelajari,
Dapat memberikan keterangan tambahan ada atau tidaknya senyawa tertentu darigolongan senyawa yang dipelajari. Adapun hingga saat ini prosedur yang banyak dipublikasikan memenuhi kriteria (a)sampai dengan (d) dan sangat sedikit memenuhi kriteria (e) sampai dengan (f) (Fransworth, 1966). Skrining fitokimia ini dilakukan dengan dua macam uji, yaitu uji tabung dan uji kromatografi. Uji tabung digunakan sebagai uji pendahuluan untuk mengetahui macamsenyawa yang terdapat dalam serbuk tumbuhan yang belum diketahui. Sedangkan uji kromatografi digunakan sebagai penegas jenis senyawa dari uji tabung yang dilakukan sebelumnya. Dalam praktikum ini uji kromatografi dilakukan dengan Kromatografi LapisTipis (KLT).
BAB III
PENUTUP
A.   Kesimpulan
Sitostatika adalah suatu pengobatan untuk mematikan sel-sel secara fraksional ( fraksi tertentu mati), sehingga 90 % berhasil dan 10 % tidak berhasil. Saat ini sedang dikembangkan terapi baru pada kanker yaitu imunoterapi, yaitu dengan memodulasi sistem kekebalan tubuh terhadap tumor, yang diharapkan dapat membunuh sel-sel kanker yang tersebar secara sistemik setelah terapi definitif lokal di lakukan. Contoh tanaman yang di gunakan untuk  atau berfungsi khusus sebagai obat untuk kanker / tumor yaitu :
1.     Phaleria Macrocarpa (Mahkota Dewa)
2.    Curcuma Zedoaria (Temu Putih)
3.    Andrographis Paniculata (Sambiloto)
4.    Selaginella Doerderlini (Cakar Ayam)
5.    Hedyotis Corymbusa (Rumput Mutiara)
B.   Saran
Diperlukan penelitian-penelitian dengan kajian yang lebih luas mengenai penggunaan bersama tanaman senyawa aktif tunggal maupun fraksi flavonoid daun Sambung Nyawa sebagai agen kemopreventif dengan obat-obat sitostatika dalam terapi kanker.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar