Kamis, 14 Juli 2011

KARAKTERISTIK NUTRISI DAN KOMPOSISI MEDIUM DASAR


BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar belakang
Kultur jaringan adalah suatu metode untuk mengisolasi bagian dari tanaman seperti sekelompok sel atau jaringan yang ditumbuhkan dengan kondisi aseptik, sehingga bagian tanaman tersebut dapat memperbanyak diri tumbuh menjadi tanaman lengkap kembali.
Nutrisi merupakan zat-zat yang diperlukan oleh tanaman untuk dapat tumbuh dan berkembang yang diperoleh dari lingkungan sekitar. Definisi ini merupakan pengertian umum dan bagaimana nutrisi yang  digunakan dalam kegiatan kultur jaringan tanaman? Yang jelas pada kegiatan kultur jaringan tanaman ini, nutrisinya tidak didapat dari lingkungan sekitar dalam hal ini di tanah. Nutrisi yang digunakan dalam proses kultur jaringan ini merupakan nutrisi yang sengaja diberikan dalam upaya membudidayakan tanaman yang ada. Seperti yangtelah diketahui sebelumnya, bahwa dalam kultur jaringan hanya digunakan sel, jaringan atau juga organ tanaman agar menghasilkan tanaman yang lengkap dengan kata lain tidak sepertimenanam tanaman biasanya yang kita lakukan dirumah yang perlu waktu yang lama agar biasmenghasilkan tanaman yang lengkap. Selain itu, dengan kultur jaringan ini menghemat tanaman karena hanya jaringan yang diambil atau juga sel jadi tidak perlu menggunakan bagian tanaman yang besar agar dapat tumbuh. Keunikan kultur jaringan inilah yang membuat kita pasti bertanya-tanya bagaimana bias tanaman bias tumbuh dengan sempurna dalam waktu yang relative singkat dibandingkan dengan menanam tanaman pada umumnya. Apa kira-kira yang menjadi factor pendukung pertumbuhan dari tanaman yang dikultur atau dibudidayakan ini. Ada juga yang mengatakan bahwa dengan kultur jaringan tanaman ini akan membuat tanaman jauh dari serangan virus dan hasilnya juga atau tanaman tersebut bias menjadi seperti induknya.
Seperti pada tanaman yang ditanam biasanya ada factor-faktor pendukung misalnya saja nutrisi.Begitu pula pada kegiatan kultur jaringan, orang yang melakukan kultur jaringan ini pasti telah mengetahui apa yang perlu dipersiapkan dalam hal ini nutrisinya. Tentu saja jika tanaman ini atau bagian tanaman ini tidak mendapatkan nutrisi yang baik, pasti juga hasilnya kurang baik.
B.   Tujuan
           1.    Untuk mengetahui kebutuhan nutrisi jaringan di dalam kultur in vitro.
           2.    Untuk mengetahui hara tanaman yang di perlukan dalam kultur jaringan.
           3.    Untuk mengetahui medium dalam kultur jaringan.


BAB II
PEMBAHASAN
A.   Sejarah Nutrisi in vitro
Ketika suatu eksplan di kulturkan, jaringannya mengalami perubahan-perubahan yang dinyatakan oleh Hartmann et al. (1990) sebagai  suatu ‘situasi krisis’. Di samping kehilangan suplai air dan mineral sebagai akibat hilangnya tekanan akar, tanaman pun kehilangan karbohidrat karena tidak ada daun-daun yang menyediakan gula ke dalam sisitem floem, juga terjadi gangguan yang menyeluruh pada sistem regulasi hormon tanaman. Pusat sintesis auksin, seperti pucuk-pucuk dengan primordia daun menjadi berkurang bila terjadi proliferasi kalus, demikian pula halnya dengan suplai sitokinin dari akar. Pertumbuhan kultur yang normal dapat kembali diinduksi bila dilakukan restorasi suplai air, komponen-komponen normal kembai diinduksi bila dilakukan restorasi suplai air, komponen-komponen nutrisi, dan zat pengatur tumbuh melalui medium tumbuh.
Gautheret pada tahun 1993, memformulasikan mediumnya dengan mengkombinasikan dua kali lipat unsur makro Knop dengan unsur mikro Berthelot. Kombinasi antara medium Upenski dan Upenski untuk kultur alga dengan larutan hara mikro Trelease dan Trelease merupakan dasar dari penyusunan medium White yang digunakan untuk kultur potongan akar tanaman tomat. Medium White ini pun terbukti cocok untuk kultur kalus tembakau hibrida Nicotiana glauca x N. Langsdorffii. Setelah mengalami serangkaian modifikasi pada tahun 1943 oleh While sendiri dan penelitian lainnya, medium ini semakin luas penggunaannnya pada kultur in vitro berbagai jaringan spesies tanaman.
B.   Hara tanaman
Unsur-unsur esensial yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah relatif besar diistilahkan sebagai unsur-unsur makro. Unsur-unsur makro karbon, hidrogen, dan oksigen tersedia bagi tanaman melalui air dan udara. Sementara itu, kebutuhan akan unsur-unsur makro yang lain seperti nitrogen, fosfor, kalium, kalsium, magnesium, dan belerang, dipenuhi melalui medium tumbuhan. Pada kultur in vitro, nitrogen diberikan dalam jumlah terbesar dalam bentuk KNO3 atau NH4NO3. Kebutuhan akan magnesium dan belerang dapat dipenuhi melalui pemberian MgSO4.7H2O. sementara itu, fosfor dapat diberikan dalam bentuk NaH2PO4.H2O atau KH2PO4. Kalium diberikan pada medium dalam bentuk KCl, KNO3, atau KH2PO4. Sedangkan CaCl2.2H2O, Ca(NO3)2.4H2O, atau bentuk-bentuk anhidrat dari kedua garam tersebut dapat diberikan untuk memenuhi kebutuhan akan kalsium. Kegunaan unsur hara makro tersebut dalam kultur jaringan
1.       Nitrogen (N) diberikan dalam bentuk NH4NO3, NH2PO4, NH2SO4.Berfungsi untuk membentuk protein, lemak, dan berbagai senyawa organik lain, morfogenesis(pertumbuhan akar dan tunas), pertumbuhan dan pembentukan embrio, pembentukan embriozigotik dan pertumbuhan vegetatif.
2.       Fosfor (P), diberikan dalam bentuk KH2PO4Berfungsi untuk metabolisme energi, sebagai stabilitor membran sel, pengaturan metabolismetanaman, pengaturan produksi pati/amilum, pembentukan karbohidrat, sangat penting dalam transfer energi, protein, dan sintesis asam amino serta konstribusi terhadap struktur dan asamn ukleat.
3.       Kalium (K), diberikan dalam bentuk CaCl2.2H2OBerfungsi untuk pemanjangan sel tanaman, memperkuat tubuh tanaman, memperlancar metabolisme dan penyerapan makanan, ion kalsium ditransfer secara cepat menyebrangimembran sel dan mengatur pH dan tekanan osmotik di antara sel.
4.       Kalsium (Ca), diberikan dalam bentuk CaCl2.2H2OBerfungsi untuk merangsang bulu-bulu akar, penggandaan atau perbanyakan sel dan akar, pembentukan tabung polen, dinding dan membran sel lebih kuat, tahan terhadap serangan patogen, mengeraskan batang, memproduksi cadangan makanan.
Di samping unsur makro, sel-sel tanaman pun membutuhkan unsur-unsur mikro tertentu. Unsur-unsur mikro yang dibutuhkan oleh semua tanaman tingkat tinggi meliputi besi, mangan, seng, boron, tembaga, molibdat, dan klor. Walaupun natrium tidak umum dibutuhkan oleh tanaman tingkat tinggi, unsur ini diperlukan oleh jaringan-jaringan yang mengandung klorofil, seperti tanaman dengan lintasan fotosintesis C4 dan tanaman dengan metabolisme asam crasulacean.
C.   Medium dalam kultur jaringan
Salah satu faktor yang paling penting yang mengatur pertumbuhan dan morfogenesis dari kultur jaringan adalah komposisi media. Persyaratan dasar gizi sel tanaman kultur jaringan sangat mirip dengan tanaman pada umumnya.
Media Kultur jaringan umumnya terdiri dari beberapa komponen berikut diantaranya: macronutrients, mikronutrien, vitamin, asam amino atau suplemen nitrogen lainnya, gula (s), suplemen organik lainnya terdefinisi. Beberapa formula media biasanya digunakan untuk sebagian besar dari semua sel dalam kultur jaringan. Formulasi media ini termasuk yang dijelaskan oleh White, Murashige dan Skoog, gamborg et. al., Schenk dan Hilderbrandt, Nitsch dan Nitsch, dan Lloyd dan McCown. Murashige dan Skoog's medium MS, Schenk dan Hildebrand's menengah SH, dan gamborg's B-5 menengah semua tinggi di macronutrients, sedangkan media lainnya formulasi mengandung lebih sedikit dari macronutrients.
Macronutrients menyediakan enam besar elemen-nitrogen (N), fosfor (P), kalium (K), kalsium (Ca), magnesium (Mg), dan sulfur (S)-yang diperlukan untuk pertumbuhan sel tanaman atau jaringan. Konsentrasi optimum masing-masing gizi untuk mencapai tingkat pertumbuhan maksimum bervariasi antar spesies.
Media kultur jaringan harus mengandung setidaknya 25-60 mM nitrogen anorganik untuk pertumbuhan sel tumbuhan yang memadai. Sel tanaman dapat tumbuh pada nitrat saja, tapi hasil jauh lebih baik diperoleh jika mengandung ammonium nitrat dan sumber nitrogen. jenis tertentu memerlukan amonium atau sumber lain nitrogen dikurangi untuk pertumbuhan sel terjadi. Nitrat biasanya disertakan dalam kisaran 25-20 mM; konsentrasi amonium tipikal berkisar antara 2 dan 20 mM. Namun, konsentrasi amonium lebih dari 8 mM dapat merugikan bagi pertumbuhan sel spesies tertentu. Sel dapat tumbuh pada medium yang mengandung ammonium sebagai sumber nitrogen tunggal jika satu atau lebih asam siklus TCA (misalnya, sitrat, suksinat, atau malat) juga termasuk dalam medium pada konsentrasi sekitar 10 mM. Ketika ammonium nitrat dan sumber nitrogen yang digunakan bersama-sama di dalam media kultur, ion ammonium akan digunakan bersama-sama di dalam media kultur, ion ammonium akan dimanfaatkan dengan lebih cepat dan sebelum ion nitrat.
Kalium diperlukan untuk pertumbuhan sel dari jenis tumbuhan yang paling. Kebanyakan media mengandung K, dalam bentuk nitrat atau klorida, pada konsentrasi 2-30 mM. Optimum konsentrasi P, Mg, S, dan kisaran 1-3 mM Ca ketika semua persyaratan lainnya untuk pertumbuhan sel puas. konsentrasi yang lebih tinggi gizi ini mungkin diperlukan jika kekurangan dalam nutrisi lain ada.
Mikronutrien penting untuk sel tumbuhan dan pertumbuhan jaringan termasuk besi (Fe), mangan (Mn), seng (Zn), boron (B), tembaga (Cu), dan molibdenum (Mo). Chelated bentuk besi dan seng yang umum digunakan dalam mempersiapkan media kultur. Besi mungkin yang paling penting dari semua mikro. Besi sitrat dan tartrat dapat digunakan dalam media kultur, tetapi senyawa ini sulit untuk membubarkan dan sering presipitat setelah media disiapkan. Murashige dan Skoog digunakan etilen asam diaminetetraacetic (EDTA)-chelate besi untuk memotong masalah ini.
Kobalt (Co) dan yodium (I) juga dapat ditambahkan ke media tertentu, namun persyaratan ketat pertumbuhan sel untuk elemen ini belum ditetapkan. Natrium (Na) dan klorin (Cl) juga digunakan di beberapa media, namun tidak penting untuk pertumbuhan sel. Cobalt tembaga dan biasanya ditambahkan ke media kultur pada konsentrasi 0,1 µM, Fe dan Mo pada 1 µM, aku di 5 µM, Zn pada 50-30 µM, pada 20-90 µM Mn, dan B di 25-100 µM.
Karbohidrat pilihan dalam media kultur sel tanaman adalah sukrosa. Glukosa dan fruktosa bisa diganti dalam beberapa kasus, glukosa yang sama efektifnya dengan sukrosa dan fruktosa yang agak kurang efektif. karbohidrat lain yang telah diuji termasuk laktosa, galaktosa, rafinose, maltosa, dan pati. konsentrasi sukrosa media budaya biasanya berkisar antara 2 dan 3 persen. Penggunaan fruktosa diautoklaf dapat merugikan pertumbuhan sel. Karbohidrat harus diberikan ke dalam media kultur karena beberapa baris sel tumbuhan telah diisolasi yang sepenuhnya autotropic, misalnya, mampu memasok kebutuhan mereka sendiri karbohidrat oleh asimilasi CO2 selama fotosintesis.
Normal tanaman mensintesis vitamin yang diperlukan untuk pertumbuhan dan pembangunan. Vitamin diperlukan oleh tanaman sebagai katalis dalam proses metabolisme. Ketika sel-sel dan jaringan tanaman tumbuh in vitro, beberapa vitamin dapat menjadi faktor pembatas untuk pertumbuhan sel. Vitamin yang paling sering digunakan di sel dan media kultur jaringan meliputi thiamin (B1), nicotinic acid, pyridoxine (B6), dan myo-inositol. Tiamin adalah vitamin yang pada dasarnya dibutuhkan oleh semua sel untuk pertumbuhan. Thiamin biasanya digunakan pada konsentrasi berkisar 0,1-10,0 mg / liter. Nicotinic acid dan pyridoxine sering ditambahkan ke media kultur tetapi tidak penting bagi pertumbuhan sel dalam banyak spesies. Asam nikotinat biasanya digunakan pada konsentrasi 0,1-5,0 mg / liter; pyridoxine digunakan di 0,1-10,0 mg / liter.
Myo-inositol umumnya termasuk dalam solusi stok banyak vitamin. Meskipun adalah karbohidrat tidak vitamin, itu telah ditunjukkan untuk merangsang pertumbuhan sel dalam budaya tertentu. Keberadaannya dalam medium tidak penting, tetapi dalam jumlah kecil-myo inositol merangsang pertumbuhan sel di sebagian besar spesies. Myo-inositol umumnya digunakan dalam sel tumbuhan dan media kultur jaringan pada konsentrasi 5-50 mg / liter.
vitamin lain seperti biotin, asam folat, asam askorbat, asam pantotenat, vitamin E (tokoferol), riboflavin, dan asam p-aminobenzoic telah dimasukkan dalam beberapa media kultur sel. Persyaratan untuk vitamin ini dengan kultur jaringan tanaman umumnya diabaikan, dan mereka tidak dianggap membatasi pertumbuhan-faktor. Vitamin ini biasanya ditambahkan ke medium kultur hanya ketika ada konsentrasi thiamin adalah di bawah tingkat yang diinginkan atau bila diinginkan untuk tumbuh sel pada kepadatan populasi yang sangat rendah.
Asam amino atau Nitrogen Lain Suplemen
Meskipun sel dikultur biasanya mampu mensintesis semua asam amino yang dibutuhkan, penambahan asam amino tertentu atau campuran asam amino dapat digunakan untuk lebih merangsang pertumbuhan sel. Penggunaan asam amino sangat penting untuk membangun kultur sel dan kultur protoplas. asam amino menyediakan sel-sel tumbuhan dengan segera tersedia sumber nitrogen, yang secara umum dapat diambil oleh sel-sel lebih cepat dari nitrogen anorganik.
Sumber-sumber yang paling umum nitrogen organik digunakan dalam media kultur adalah campuran asam amino (misalnya, hidrolisat kasein), L-glutamin, L-Asparagina, dan adenin. Kasein hidrolisat umumnya digunakan pada konsentrasi antara 0,05 dan 0,1 persen. Ketika asam amino ditambahkan sendiri, harus berhati-hati, karena mereka dapat menghambat pertumbuhan sel. Contoh asam amino termasuk dalam media kultur untuk meningkatkan pertumbuhan sel glisin sebesar 2 mg / liter, glutamin hingga 8 mM, Asparagina pada 100 mg / liter, L-arginin dan sistein pada 10 mg / liter, dan L-tirosin pada 100 mg / liter. Tirosin telah digunakan untuk merangsang morfogenesis dalam budaya sel tetapi hanya harus digunakan dalam media agar. Suplementasi dari medium dengan adenin sulfat dapat merangsang pertumbuhan sel dan sangat meningkatkan pembentukan tunas.
Undefined Suplemen Organik, penambahan berbagai ekstrak organik untuk media kultur sering menghasilkan respon jaringan yang menguntungkan. Suplemen yang telah diuji mencakup hydrolysates protein, santan ekstrak ragi, ekstrak malt, pisang tanah, jus jeruk, dan jus tomat. Namun, suplemen organik tidak terdefinisi seharusnya hanya digunakan sebagai upaya terakhir, dan hanya santan dan hydrolysates protein digunakan sampai batas tertentu hari ini. Protein (kasein) hydrolysates umumnya ditambahkan ke dalam media kultur pada konsentrasi 0,05-0,1%, sedangkan air kelapa umumnya digunakan pada 5-20% (v / v). Penambahan arang aktif (AC) untuk media kultur dapat memiliki efek menguntungkan. Pengaruh AC umumnya dikaitkan dengan salah satu dari tiga faktor: penyerapan senyawa hambat, penyerapan zat pengatur tumbuh dari medium, atau penggelapan medium. Penghambatan pertumbuhan di hadapan AC umumnya dikaitkan dengan penyerapan phytohormones ke AC. 1-Napthaleneacetic asam (AAN), kinetin, 6-benzilamino (BA), indole-3-asam asetat (IAA), dan 6-?-?-dimethylallylaminopurine (2ip) semua mengikat untuk AC, dengan dua pengatur tumbuh yang terakhir mengikat cukup cepat. Stimulasi pertumbuhan sel oleh AC umumnya dikaitkan dengan kemampuannya untuk mengikat senyawa fenolik beracun yang dihasilkan selama budaya. Diaktifkan arang umumnya asam-dicuci sebelum Selain medium pada konsentrasi 0,5-3,0 persen.
Dukungan Sistem Agen memperkuat atau agar merupakan agen gelling paling sering digunakan untuk menyiapkan media kultur jaringan tanaman semisolid dan solid. Agar memiliki beberapa keunggulan dibandingkan agen gelling lainnya. Pertama, ketika agar dicampur dengan air, membentuk gel yang meleleh pada sekitar 60 ° -100 ° C dan didinginkan pada sekitar 45 ° C, dengan demikian, agar gel yang stabil pada suhu inkubasi semua layak. Selain itu, gel agar tidak bereaksi dengan konstituen media dan tidak dicerna oleh enzim tanaman. Ketegasan dari gel agar dikendalikan oleh konsentrasi dan merek agar-agar digunakan dalam medium kultur dan pH medium. Konsentrasi agar yang umum digunakan dalam media kultur sel tanaman berkisar antara 0,5 dan 1,0%; ini konsentrasi memberikan gel yang kuat pada pH khas dari media kultur sel tanaman. Gelling agen lain sering digunakan untuk komersial serta tujuan penelitian adalah Gelrite. Produk ini adalah sintetik dan harus digunakan pada 1,25-2,5 g / liter, menghasilkan gel yang jelas yang membantu dalam mendeteksi kontaminasi. Alternatif metode ini termasuk dukungan penggunaan plastik berlubang, jembatan filter kertas, sumbu kertas filter, busa poliuretan, dan wol polyester. Apakah eksplan tumbuh terbaik agar atau agen pendukung lainnya bervariasi dari satu jenis tanaman ke yang berikutnya.
Kultur yang kurang berhasil, kadang-kadang disebabkan oleh pemakaian air yang kurang murni. Tidak boleh sembarang air dapat digunakan untuk membuat media kultur.Contohnya air sumur atau air ledeng, dalam air tersebut mengandung banyak kontaminan, bahaninorganik, organik, atau mikroorganisme. Air yang digunakan untuk membuat media harus benar-benar berkualitas tinggi, karena air maliputi lebih adari 95% komponen media.Terhambatnya pertumbuhan tanaman yang dikulturkan dapat disebabkan oleh rendahnya kualitasair yang digunakan. Untuk menghindari hal tersebut, maka sebaiknya digunakan air yang telahdimurnikan atau yang sering kita sebut air destilata (akuades) atau air destilata ganda(akuabides). Dengan alasan ini, sebaiknya sebuah laboratorium kultur jaringan layaknyamempunyai alat penyulingan air (water destilator) atau setidaknya alat pembuat air bebas ion(deionizer). Cara kerja destilator dalam menghasilkan air destilata adalah dengan cara mengubahair menjadi uap air, kemudian mengkondensasikan uap air tersebut. Maka, jadilah air destilata yang tidak lagi berisi mineral atau senyawa organik

BAB III
PENTUTUP
A.   Kesimpulan
Kultur jaringan atau budidaya in vitro adalah suatu metode untuk mengisolasi bagian dari tanaman seperti protoplasma, sel, jaringan atau organ yang serba steril, ditumbuhkan pada media buatan yang steril, dalam botol kultur yang steril dan dalam kondisi yang aseptik, sehingga bagian-bagian tersebut dapat memperbayak diri dan beregenerasi menjadi tanaman yang lengkap.
Pekerjaan kultur jaringan meliputi: persiapan media, isolasi bahan tanam (eksplan), sterilisasi eksplan, inokulasi eksplan, aklimatisasi dan usaha pemindahan tanaman hasil kultur jaringan ke lapang.
B.   Saran
Pelaksana pada kultur jaringan harus di kerjakan dengan teliti dan serius, karena setiap tahapan pekerjaan memerlukan penanganan tersendiri dengan dasar pengetahuan tersendiri.


Jumat, 24 Juni 2011

laporan praktikum VITAMIN

BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar belakang
Terdapat 13 jenis vitamin yang dibutuhkan oleh tubuh untuk dapat bertumbuh dan berkembang dengan baik. Vitamin tersebut antara lain vitamin A, C, D, E, K, dan B (tiamin, riboflavin, niasin, asam pantotenat, biotin, vitamin B6, vitamin B12, dan folat). Walau memiliki peranan yang sangat penting, tubuh hanya dapat memproduksi vitamin D dan vitamin K dalam bentuk provitamin yang tidak aktif. Oleh karena itu, tubuh memerlukan asupan vitamin yang berasal dari makanan yang kita konsumsi. Buah-buahan dan sayuran terkenal memiliki kandungan vitamin yang tinggi dan hal tersebut sangatlah baik untuk tubuh. Asupan vitamin lain dapat diperoleh melalui suplemen makanan.
Vitamin memiliki peranan spesifik di dalam tubuh dan dapat pula memberikan manfaat kesehatan. Bila kadar senyawa ini tidak mencukupi, tubuh dapat mengalami suatu penyakit. Tubuh hanya memerlukan vitamin dalam jumlah sedikit, tetapi jika kebutuhan ini diabaikan maka metabolisme di dalam tubuh kita akan terganggu karena fungsinya tidak dapat digantikan oleh senyawa lain. Gangguan kesehatan ini dikenal dengan istilah avitaminosis. Contohnya adalah bila kita kekurangan vitamin A maka kita akan mengalami kerabunan. Di samping itu, asupan vitamin juga tidak boleh berlebihan karena dapat menyebabkan gangguan metabolisme pada tubuh.
Penuaan tubuh merupakan hasil akumulasi dari berbagai kerusakan sel dan jaringan yang tidak dapat diperbaiki. Pada keadaan normal, kerusakan pada sel dan jaringan tubuh dapat diperbaiki melalui proses replikasi sel tubuh yang juga dikenal dengan istilah mitosis. Akan tetapi, pada berbagai kasus sel yang rusak tidak lagi dapat diperbaharui, melainkan terus terakumulasi. Hal inilah yang berpotensi menyebabkan penuaan pada tubuh.  Senyawa radikal bebas merupakan salah satu agen yang berkontribusi besar dalam peristiwa ini.
B.   Maksud percobaan
Untuk mengetahui adanya vitamin A, D, dan C dalam suatu bahan secara kualitatif.
C.   Tujuan percobaan
Membuktikan adanya vitamin A,  D, dan C dalam suatu bahan secara kualitatif.

D.   Prinsip percobaan
           a.    Vitamin A
1.    Berdasarkan penambahan kloroform dan asam asetat anhidrid. Selanjutnya di bubuhkan sepucuk sendok kristal SbCl3 kedalamnya akan terbentuk warna biru yang akan berubah menjadi merah coklat berarti vitamin A positif.
2.    Berdasarkan penambahan pereaksi asam trikloroasetat dalam kloroform amati warna yang terjadi bila timbul warna biru kehijauan menandakan vitamin A positif.
          b.    Vitamin D
            Berdasarkan penambahan larutan H2O2 5% di homogenkan kemudian panaskan lalu di dinginkan selanjutnya dilakukan uji dengan pereaksi Carr-price seperti pada penentuan adanya vitamin A. Amati perubahan warna jika berwanra jingga kuning berarti vitamin D positif.
        c.    Vitamin C 
             Berdasarkan penambahan pereaksi benedict akan menghasilkan warna hijau kekuningan sampai merah bata yang menandakan reaksi positif (+) mengandung vitamin C. Larutan sampel dinetralkan dengan menambahkan NaHCO3 (pH=8), lalu direaksikan dengan FeCl3 akan menghasilkan warna ungu yang menandakan reaksi positif (+) mengandung vitamin C.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.   Teori umum
Vitamin (bahasa Inggris: vital amine, vitamin) adalah sekelompok senyawa organik amina berbobot molekul kecil yang memiliki fungsi vital dalam metabolisme setiap organisme, yang tidak dapat dihasilkan oleh tubuh.
Nama ini berasal dari gabungan kata bahasa Latin vita yang artinya "hidup" dan amina (amine) yang mengacu pada suatu gugus organik yang memiliki atom nitrogen (N), karena pada awalnya vitamin dianggap demikian. Kelak diketahui bahwa banyak vitamin yang sama sekali tidak memiliki atom N. Dipandang dari sisi enzimologi (ilmu tentang enzim), vitamin adalah kofaktor dalam reaksi kimia yang dikatalisasi oleh enzim. Pada dasarnya, senyawa vitamin ini digunakan tubuh untuk dapat bertumbuh dan berkembang secara normal.
Vitamin merupakan satu dari berbagai jenis senyawa yang dapat menghambat reaksi perusakan tubuh oleh senyawa radikal bebas terkait dengan aktivitas antioksidannya. Asupan vitamin antioksidan yang cukup akan membantu tubuh mengurangi efek penuaan oleh radikal bebas, terutama oleh oksigen bebas yang reaktif. Selain itu, vitamin juga berkontribusi dalam menyokong sistem imun yang baik sehingga risiko terkena berbagai penyakit degeneratif dan penyakit lainnya dapat ditekan, terutama pada manula. Jadi, secara tidak langsung, asupan vitamin yang cukup dan seimbang dapat menciptakan kondisi tubuh yang sehat dan berumur panjang.
Vitamin merupakan suatu senyawa yang telah lama dikenal oleh peradaban manusia. Sudah sejak ribuan tahun lalu, manusia telah mengenal vitamin sebagai salah satu senyawa yang dapat memberikan efek kesehatan bagi tubuh. Seiring dengan berkembangnya zaman dan ilmu pengetahuan, berbagai hal dan penelusuran lebih mendalam mengenai vitamin pun turut diperbaharui. Garis besar sejarah vitamin dapat dibagi menjadi 5 era penting. Disetiap era tersebut, terjadi suatu kemajuan besar terhadap senyawa vitamin ini yang diakibatkan oleh adanya kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan
TAHUN PENEMUAN VITAMIN ALAMI DAN SUMBERNYA
Tahun penemuan
Vitamin
Nama biokimia
Ditemukan di
1909
Vitamin A
1912
Vitamin B1
1912
Vitamin C
1918
Vitamin D
1920
Vitamin B2
1922
1926
Vitamin B12
Telur
1929
1931
Vitamin B5
1931
Vitamin B7
Hati
1934
Vitamin B6
Kacang
1936
Vitamin B3
Ragi
1941
Vitamin B9
Hati
Secara garis besar, vitamin dapat dikelompokkan menjadi 2 kelompok besar, yaitu vitamin yang larut dalam air dan vitamin yang larut dalam lemak. Hanya terdapat 2 vitamin yang larut dalam air, yaitu B dan C, sedangkan vitamin lainnya, yaitu vitamin A, D, E, dan K bersifat larut dalam lemak. Vitamin yang larut dalam lemak akan disimpan di dalam jaringan adiposa (lemak) dan di dalam hati. Vitamin ini kemudian akan dikeluarkan dan diedarkan ke seluruh tubuh saat dibutuhkan. Beberapa jenis vitamin hanya dapat disimpan beberapa hari saja di dalam tubuh, sedangkan jenis vitamin lain dapat bertahan hingga 6 bulan lamanya di dalam tubuh.
Berbeda dengan vitamin yang larut dalam lemak, jenis vitamin larut dalam air hanya dapat disimpan dalam jumlah sedikit dan biasanya akan segera hilang bersama aliran makanan. Saat suatu bahan pangan dicerna oleh tubuh, vitamin yang terlepas akan masuk ke dalam aliran darah dan beredar ke seluruh bagian tubuh. Apabila tidak dibutuhkan, vitamin ini akan segera dibuang tubuh bersama urin. Oleh karena hal inilah, tubuh membutuhkan asupan vitamin larut air secara terus-menerus.
Mengkonsumsi terlalu sedikit vitamin dapat menyebabkan gangguan gizi. Oleh karena itu, orang yang makan berbagai macam makanan tidak mungkin kekurangan banyak vitamin. Kekurangan vitamin D merupakan pengecualian. Hal ini sering terjadi pada kelompok orang tertentu (seperti orang tua) meskipun mereka memakan berbagai macam makanan. Untuk vitamin yang lainnya, kekurangan vitamin dapat terjadi jika seseorang mengikuti diet ketat yang tidak memiliki cukup vitamin tertentu.
Gangguan yang mengganggu pencernaan mencerna makanan (disebut gangguan malabsorpsi) dapat menyebabkan kekurangan vitamin. Beberapa gangguan mengganggu penyerapan lemak.




B.   Uraian bahan
            1.    Asam asetat anhidrit           (Depkes RI, hal 647)
           Nama resmi                           = ANHIDRIDA ASETAT
           Nama lain                              = Asam asetat anhidrit
           Rumus molekul                    = (CH3.CO)2O
           Pemerian                               = Cairan tidak berwarna, berbau tajam.
           Penyimpanan                       = Dalam wadah tertutup rapat
            2.    Kloroform                               (Depkes RI, hal 151)
           Nama resmi                           = CHLOROFORMUM
           Nama   lain                             = Kloroform
           Rumus kimia                          = CHCL3
           Berat molekul                       = 119,38
           Pemerian                               = Cairan, mudah menguap ; tidak berwarna
   ; bau khas ; rasa manis dan membakar.
Kelarutan                              = Larut dalam lebih kurang 200 bagian air ; 
                                           mudah  larut dalam etanol mutlak P, dalam eter P, dalam    bagian besar pelarut organik, dalam minyak atsiri, dan dalam wadah minyak lemak.
            Penyimpanan                       = Dalam wadah tertutup rapat.
            Khasiat                                  = anasetikum, pengawet, zat tambahan.
            3.    Minyak ikan                          (Depkes RI, hal 457)
           Nama resmi                           = OLEUM LECORIS
           Nama lain                              = Minyak ikan
           Pemerian                               = Cairan ; kuning padat ; bau khas, agak
manis,  tidak tengik ; rasa khas.
            Kelarutan                              = Sukar larut dalam etanol (95%) P ; 
                                                             mudah larut dalam kloroform P, dalam eter P, 
                                                            dan dalam minyak tanah P.
Penyimpanan                       = Dalam wadah tertutup baik, terisi penuh,
berlindung dari cahaya.
            Khasiat                                  = Sumber vitamin A & vitamin D.
            4.    Sbcl3                                       (Depkes RI, hal 646)
           Nama resmi                           = ANTINOM KLORIDA
           Nama lain                              = Sbcl3 / Antinom kloridum
           Rumus molekul                     = Sbcl3 
           Pemerian                               = Hablur tidak berwarna, berasap
diudara lembab.
          Kelarutan                              = Sangat mudah larut dalam air.
          5.    Vitamin A                               (Depkes RI, hal 100)
         Nama resmi                           = AXEROPHTHOLUM
         Nama lain                              = Akseroftol
Pemerian                               = Cairan menyerupai minyak; kuning muda
hingga merah ; membeku jika didinginkan; atau zat padat yang ujudnya terutama tergantung dari zat tambahan yang digunakan. Hampir tidak berbau, atau sedikit berbau minyak ikan, tidak berbau tengik ; tidak berasa tengik. Tidak stabil di udara dan peka terhadap cahaya.
Kelarutan                              = Praktis tidak larut dalam air dan dalam
gliserol P; larut dalam etanol mutlak P dan dalam minyak nabati ; sangat mudah larut dalam kloroform P dan dalam eter P.
Penyimpanan                       = Dalam wadah tertutup rapat, berisi gas
inert, terlindung dari cahaya.
            Khasiat                                  = Antikseroftalmia, sumber vitamin A.
            6.    Vitamin C                              (Depkes RI, hal 47)
           Nama resmi                           = ACIDUM ASCORBICUM
           Nama lain                              = Asam askorbat
            Rumus molekul                    = C6H8O6
            Rumus molekul                    = 176,13
Pemerian                               = serbuk atau hablur ; putih atau agak
kuning ; tidak berbau ; rasa asam. Oleh pengaruh cahaya lambat laun menjadi gelap. Dalam keadaan kering, mantap di udara, dalam larutan cepat teroksidasi.
Kelarutan                              = Mudah larut dalam air; agak sukar larut
dalam etanol (95%) P ; praktis tidak larut dalam kloroform P, dalam  eter P dan dalam benzene P.
Penyimpanan                       = Dalam wadah tertutup tertutup rapat,
terlindung dari cahaya.
            Khasiat                                  =  Antiskorbut
           7.    Vitamin D                              (Depkes RI, hal 129)
           Nama resmi                           = CALCIPHEROLUM
           Nama lain                              = Kalsiferol
           Rumus molekul                    = C24H44O
           Berat molekul                       = 396,66
Pemerian                               = Hablur tidak berwarna, atau serbuk
hablur putih ; tidak berbau atau hampir tidak berbau ; tidak berasa.
Kelarutan                              = Praktis  tidak larut dalam air ; larut dalam
2 bagian etanol (95%) P, dalam 0,7 bagian kloroform P, dalam 2 bagian eter P, dalam 10 bagaian aseton P dan dalam 50 sampai 100 bagian minyak lemak.
Penyimpanan                       = Dalam kaca tertutup kedap berisi gas
inert, terlindung dari cahaya ; di tempat sejuk.
            Khasiat                                  = Antirakhitis.


BAB III
METODE KERJA
A.   Alat dan Bahan
a.    Alat yang di gunakan
1.    Bunsen
2.    Gegep
3.    Lap halus
4.    Lap kasar
5.    Pipet tetes
6.    Rak tabung
7.    Sendok tanduk
8.    Tabung reaksi
b.    Bahan yang digunakan
1.    Asam asetat anhidrit
2.    Asam trikloroasetat
3.    Kertas PH atau lakmus
4.    Kloroform
5.    Kristal Sbcl3
6.    Larutan Asam Askorbat 1%
7.    Larutan FeCl3 1%
8.    Larutan NaHCO3  5%
9.    Larutan H2O2 5%
10. Minyak ikan
11. Pereaksi benedict
B.   Cara kerja
1.    Vitamin A
Bagian A ;
a.    Di siapkan alat dan bahan
b.    Kedalam tabung reaksi, masukkan 5 tetes minyak ikan
c.    Ditambahkan 10 tetes kloroform, kemudian campurlah dengan baik
d.    Ditambahkan 2 tetes asam asetat anhidrit
e.    Selanjutnya, dibubuhkan sepucuk sendok Kristal Sbcl3 kedalamnya
f.     Perhatikan perubahan warna
g.    Jika terbentuk warna biru yang akan berubah menjadi merah coklat berarti vitamin A positif.
Bagian B ;
a.    Disiapkan alat dan bahan
b.    Kedalam tabung reaksi masukkan 5 tetes minyak ikan.
c.    Tambahkan 1 ml pereaksi asam trikloroasetat dalam kloroform
d.    Dihomogenkan dengan baik
e.    Amati warna yang terjadi, jika timbul warna biru kehijauan menandakan vitamin A positif.
2.    Vitamin D
a.    Disiapkan alat dan bahan
b.    Kedalam 2 tabung reaksi masukkan masing-masing 10 tetes minyak ikan
c.    Ditambahkan 10 tetes larutan H2O2 5%
d.    Dikocok campuran kira-kira 1 menit.
e.    Dipanaskan diatas api kecil perlahan-lahan sampai tidak ada gelembung-gelembung gas yang keluar. Usahakan jangan sampai mendidih..
f.     Dinginkan tabung dibawah air kran.
g.    Dilakukan  ui dengan uji pereaksi Carr-Price seperti pada penentuan adanya vitamin A.
h.    Amati perubahan warna yang terjadi. Adanya warna jingga kuning berarti vitamin D positif.
3.    Vitamin C
Bagian A ;
1.    Disiapkan alat dan bahan
2.    Masukkan kedalam tabung reaksi 5 tetes larutan asam askorbat 1%
3.    Dipanaskan diatas api kecil sampai mendidh selama 2 menit
4.    Perhatikan adanya endapan yang terbentuk. Warna hijau kekuningan sampai merah bata menandakan vitamin C positif.
Bagian B
1.    Disiapkan alat dan bahan
2.    Masukan 10 tetes larutan asam askorbat 1% kedalam tabung reaksi.
3.    Kemudian, dinetralkan larutan (pH = 8) menggunakan NaHCO3 5%.
4.    Ditambahkan 2 tetes larutan FeCl3
5.    Diamati warna yang terjadi. Adanya warna merah-ungu berarti vitaminC positif.







BAB IV
HASIL & PEMBAHASAN
A.   Tabel pengamatan
Vitamin A
Bahan
Prosedur A
Prosedur B
Minyak ikan
5 tetes
5 tetes
kloroform
10 tetes
-
Asam Asetat Ahidrit
2 tetes
-
SbCl3
Sepucuk sendok
-
TCA dalam kloroform
-
1 ml
Campurlah dengan baik
Hasil:perhatikan warna yang terbentuk
+
+














Vitamin D
Bahan
Tabung I
Tabung II
Minyak ikan
10 tetes
10 tetes
Larutan H2O2 5%
10 tetes
10 tetes
Pemanasan tidak sampai mendidih, lalu uji dengan pereaksi Carr-Price
Hasil:
Warna jingga – kuning (+/-)
+
+

Vitamin C:
Bahan
Prosedur A
Prosedur B
Larutan asam askorbat 1%
5 tetes
5 tetes
Pereaksi benedict
15 tetes
-
pH larutan
-
8 tetes
Larutan FeCl 1%
-
2-3 tetes
Didihkan diatas api kecil selama 2 menit untuk prosedur A
Hasil: perhatikan warna endapan atau larutan
+
+

B.   Reaksi
1.    Vitamin A





        
     2.    Vitamin D

3.    Vitamin C






C.   Pembahasan
Vitamin adalah suatu zat senyawa kompleks yang sangat dibutuhkan oleh tubuh kita yang berfungsi untuk mambantu pengaturan atau proses kegiatan tubuh. Tanpa vitamin manusia, hewan dan makhluk hidup lainnya tidak akan dapat melakukan aktifitas hidup dan kekurangan vitamin dapat menyebabkan memperbesar peluang terkena penyakit pada tubuh kita.
Vitamin A, yang juga dikenal dengan nama retinol, merupakan vitamin yang berperan dalam pembentukkan indra penglihatan yang baik, terutama di malam hari, dan sebagai salah satu komponen penyusun pigmen mata di retina. Selain itu, vitamin ini juga berperan penting dalam menjaga kesehatan kulit dan imunitas tubuh. Vitamin ini bersifat mudah rusak oleh paparan panas, cahaya matahari, dan udara. Sumber makanan yang banyak mengandung vitamin A, antara lain susu, ikan, sayur-sayuran (terutama yang berwarna hijau dan kuning), dan juga buah-buahan (terutama yang berwarna merah dan kuning, seperti cabai merah, wortel, pisang, dan pepaya).
Vitamin D dibuat dari orgosterol yang diradiasi. Orgosterol diperoleh dari regisisa industri. Fungsi vitamin D sebagai pembentukan struktur tulang dan gigi yang kuat.
Vitamin C merupakan senyawa antioksidan alami yang dapat menangkal berbagai radikal bebas dari polusi di sekitar lingkungan kita. Terkait dengan sifatnya yang mampu menangkal radikal bebas, vitamin C dapat membantu menurunkan laju mutasi dalam tubuh sehingga risiko timbulnya berbagai penyakit degenaratif, seperti kanker, dapat diturunkan. Selain itu, vitamin C berperan dalam menjaga bentuk dan struktur dari berbagai jaringan di dalam tubuh, seperti otot. Vitamin ini juga berperan dalam penutupan luka saat terjadi pendarahan dan memberikan perlindungan lebih dari infeksi mikroorganisme patogen. Melalui mekanisme inilah vitamin C berperan dalam menjaga kebugaran tubuh dan membantu mencegah berbagai jenis penyakit. Defisiensi vitamin C juga dapat menyebabkan gusi berdarah dan nyeri pada persendian. Akumulasi vitamin C yang berlebihan di dalam tubuh dapat menyebabkan batu ginjal, gangguan saluran pencernaan, dan rusaknya sel darah merah.
Adapun dari hasil penelitian yang dilakukan pada percobaan vitamin A, prosedur A terbentuk warna biru yang akan berubah warna menjadi merah coklat yang menunjukkan positif vitamin A, sedangkan pada prosedur B terbentuk warna biru kehijauan yang menandakan vitamin A positif.
Pada percobaan vitamin D, 10 tetes minyak ikan yang ditambahkan 10 tetes larutan H2O2 5% dihomogenkan selama 5 menit dipanaskan diapi sampai tidak ada gelembung selanjutnya di dinginkan kemudian dilakukan uji pereaksi Carr-Price seperti pada penentuan vitamin A dan terbentuknya warna jingga kuning yang menunjukkan vitamin D positif.
Pada percobaan vitamin C, prosedur memiliki 2 prosedur. Pada prosedur pertama dipipet 5 tetes larutan asam askorbat 1% ditambahkan 15 tetes pereaksi benedicth. Dipanaskan diatas bunsen dengan api kecil sampai mendidih 2 menit dan berbentuk endapan yang terbentuk warna hijau kekuningan sampai merah bata yang menunjukkan vitamin C positif, dan pada prosedur yang ke-2 10 tetes larutan askorban 1% di netralkan dengan larutan NaHCO3  5% ( pH = 8) selanjutnya ditetesi larutan FeCl3 dan di amati perubahan warna yang terjadi darimerah-ungu yang menandakan vitamin C positif.





BAB V
PENUTUP
A.   Kesimpulan
berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa:
1.    Pada uji vitamin A menunjukkan hasil positif, pada prosedur pertama yang menunjukkan perubahan warna dari warna biru biru berubah menjadi warna merah-kecoklat, sedangkan pada prosedur ke-2 ditandai dengan timbulnya warna biru kehijaun.
2.    Pada uji vitamin D menunjukkan adanya warna jingga – kuning yang berarti vitamin D positif.
3.    Pada uji vitamin C memiliki 2 prosedur, pada prosedur pertama timbulnya warna hijau kekuningan sampai merah bata, sedangkan pada prosedur ke-2 ditandai dengan adanya warna merah-ungu.
B.   Saran
Laboratorium                  : alat dan bahan tolong dilengkapi agar proses
praktikum berjalan lancar
Asisten                             : mohon bantuannya pada saat praktikum
Berlangsung
DAFTAR PUSTAKA
Dirjen POM.1979.”Farmakope Indonesia Edisi III”. Depkes RI: jakarta
Tim Dosen UIT.2011.”Penuntun praktikum Biokimia”. Universitas Indonesia Timur: Makassar